eriek

eriek

Media Dikuasai Pemilik Modal

Posted by eriek 6 March, 2010 (0) Comment

PERUSAHAAN media massa di Indonesia tidak terlepas dari ‘cengkraman’ pemilik modal yang punya kepentingan di dalamnya. Di jaman kebebasan pers Indonesia seperti sekarang, pemilik modal melancarkan pengaruh dan kepentingan melalui perusahaan media yang dikelolanya.

Sama halnya dengan sebuah perusahaan yang didirikan pemilik modal dan bertujuan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya melalui perusahaan itu. Namun yang membedakan dengan perusahaan media massa adalah tanggung jawab moral dan sosial mereka terhadap masyarakat. Masyarakat sangat berharap terhadap pers yang dapat menumbuhkan demokrasi yang selaras dan tercapainya tujuan kebebasan berpendapat yang dilindungi undang-undang.

Pers sebagai pilar demokrasi keempat, tentu menjadi pengawal jalannya pemerintahan (eksekutif) agar bersih dan transparan. Sehingga jalannya pemerintahan yang telah diamanahkan oleh masyarakat tersebut, harus sepenuhnya dijalankan dengan asas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (Pancasila sila kelima, red). Hal ini menjadi tugas pers menjembatani masyarakat dengan pemerintah. Apakah pemerintah berjalan sesuai amanah atau sebaliknya? Jika pemerintah ada indikasi menyimpang atau tidak amanah, maka tanggung jawab pers untuk mengungkapnya ke publik.

Konglomerasi Ancaman Kebebasan Pers?
Kekhawatiran bahwa perusahaan media yang dikuasai atau adanya konglomerasi dalam kepemilikan media massa di Indonesia, memang ada benarnya. seperti dikutip dari Kompas, dalam diskusi Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) di Dewan Pers dengan tema “Konglomerasi Media: Ancaman atau Peluang bagi Kebebasan Pers”.

Tanpa malu-malu sebutlah dua media televisi berita di Indonesia, yakni Metro TV (dimiliki oleh Surya Paloh) dan TV One (dimiliki oleh Abu Rizal Bakrie). Kita sudah tahu dua konglomerat ini juga adalah petinggi partai berlambang pohon beringin. Surya Paloh yang menduduki sebagai Dewan Pembina Partai Golkar dan Abu Rizal Bakrie baru saja menggantikan kedudukan Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum Partai Golkar yang baru.

Di berita Kompas cetak tersebut, tampaknya malu-malu menyebutkan konglomerasi yang dimaksud. Mungkinkah Ignatius Haryanto, Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pers dan Pembangunan, tidak menyebutkan nama para konglomerasi media pada diskusi tersebut?

Beberapa waktu lalu, bos Metro TV menjadi perhatian publik. Ia mendeklarasikan organisasi masyarakat dengan sangat spektakuler dan tak kalah seperti deklarasinya SBY-Boediono di ITB. Cukup mengagetkan di sana cukup banyak tokoh penting dari akademisi hingga politisi. Terhadap pendirian ormas yang bernama Nasional Demokrat (NasDem) ini, peran Metro TV sebagai televisi berita (mungkin satu-satunya, red) yang memberitakan kepada publik.

Jurnal Nasional Dimodali Budi Sampoerna?
Jauh sebelum George Junus Aditjondro yang menjadi kontroversi di tengah-tengah masyarakat karena ia menulis buku dengan judul “Membongkar Gurita Cikeas”, saya diceritakan seorang sahabat, yang juga seorang senior saya yang kini masih bekerja sebagai jurnalis di Harian Jurnal Nasional (Jurnas) bahwa Budi Sampoerna, pewaris rokok Sampoerna yang kaya itu, adalah pemodal perusahaan media cetak yang pro SBY. Namun, di dalam sebuah tayangan wawancara Metro TV terhadap Budi Sampoerna membantahnya dan mengatakan tidak tahu soal Harian Jurnal Nasional. Pemimpin redaksi Jurnas, Ramadhan Pohan, yang kini menjadi politisi Partai Demokrat dan duduk menjadi anggota DPR RI, membantah angka khas Sampoerna “234″ dikaitkan dengan kantor redaksi Jurnas di Jalan Pemuda No 234, Rawamangun, Jakarta Timur. Dji Sam Soe. Ya, sebutan itu orang akan langsung ingat dengan angka “234″ pada salah satu rokok Sampoerna.

”Akibat konglomerasi dan kekuasaan modal yang semakin tak tertahankan, keberadaan pemilik media massa di ruang redaksi menjadi sangat dominan. Mereka bahkan mampu mencengkeram media massa yang sebenarnya selama ini bersikap independen,”kata Ignatius. Media massa kemudian hanya dijadikan sekadar corong demi kepentingan politik dan bisnis sang pemilik modal.

Entah pembantahan Budi Sampoerna bernuansa melindungi dirinya atau ada motif tertentu lainnya? Pemodal dan petinggi harian tersebut sama-sama membantahnya dimodali uang Sampoerna. Namun, dibalik politik konglomerasi media tersebut, saya menilai bahwa Jurnas meskipun usianya masih seumur jagung (4 tahun) sudah pantas sejajar dengan Harian Kompas. Jurnas sudah cukup banyak meraih penghargaan/award kewartawanan berkat kerja keras para jurnalisnya dalam meliput sejumlah peristiwa.

Terlepas dari konglomerasi media-media, sebagai masyarakat biasa yang setiap hari hampir mengamati media, sudah cukup bersyukur dengan adanya kehadiran banyak media cetak maupun elektronik. Tampaknya masyarakat memang belum merasa ‘gerah’ dengan konglomerasi media. Masyarakat butuh keadilan yang beradab dan bermartabat di hadapan hukum bagi seluruhnya tanpa ada pembedaan. Lagi-lagi pemerintah yang berkuasa sekarang harus memenuhi kebutuhan riil masyarakatnya.


Categories : eriek, penyeruit Tags :
eriek

Sepeda Motor Bukan Mesin Pembunuh Manusia

Posted by eriek 17 February, 2010 (0) Comment

SAYA teringat dengan sebuah pesan/peringatan yang menakutkan seperti judul di atas. Kalau tidak salah saya pernah lihat di tepi jalan daerah Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Selain pesan/peringatan tersebut, ada sebuah mobil (mungkin bekas kecelakaan, kondisinya memprihatinkan dan sungguh hancur) dipajang layaknya monumen. Barangkali maksudnya dibuatkan monumen itu agar para pengemudi kendaraan bermotor, ‘ngeri’ dan akan waspada setiap berkendara.

Seiring pesatnya jumlah pengendara sepeda motor di Indonesia, sehingga semakin pesat pula angka kecelakaan yang terjadi. Bahkan, sampai merengut nyawa pengendara akibat kecelakaan di jalan. Padahal kalau kita mau sadar dan belajar dari pengalaman (melihat berita kecelakaan motor di televisi), tentu kita akan selalu waspada mengendarai sepeda motor di jalan raya.

Ternyata tidak semua menyadari bahwa di jalan raya adalah ancaman yang dapat membunuh para pengguna jalan tersebut, baik pejalan kaki sampai pengendara kendaraan bermotor. Yang lebih mencemaskan saya adalah setelah melihat langsung terjadinya kecelakaan sepeda motor yang diserempet mobil dari belakang (satu arah), Senin kemarin (15/2) di Jalan Perintis Kemerdekaan, depan Depot Logistik Sumsel. Di depan mata saya ketika mengendarai sepeda motor dengan jarak kira-kira 10 meter, mendadak langsung saya menepikan sepeda motor saya. Bukan maksud berbuat heroik dan ingin dipuji, kontan saja saya menolong seorang anak TK (sepertinya baru pulang sekolah dan masih mengenakan seragam TK) yang terjatuh berbarengan dengan pengendara sepeda motor di tengah jalan.

Dengan kaki tergopoh-gopoh menuntun si anak supaya lekas duduk di tepi trotoar. Kemudian memeriksa kedua kaki dan tangannya untuk memastikan si anak tidak terluka. Syukur Alhamdulillah dia tidak terluka sama sekali. Hanya saja si bapak pengendara sepeda motor yang sedikit luka ringan di bagian pergelangan tangan. Lebih disayangkan lagi, mobil yang menyerempet mereka tidak tampak. Mungkin sudah kabur karena panik atau tidak mau memperpanjang urusan ini.

Kalau saja si bapak dan anak yang kecelakaan ini berdo’a si sopir yang menyerempet mereka, pasti meminta si sopir tidak selamat. Ya tidak adil bagi yang celaka. Sedangkan mobil yang kabur membawa rasa panik dan was-was.

Kedua Orangtua teman saya Meninggal karena Kecelakaan
Tiba-tiba saya langsung teringat dengan peristiwa yang dialami kedua orangtua teman saya. Ayah dan ibunya meninggal saat mereka di atas sepeda motor ‘dihajar’ sebuah mobil angkot Sei.Lais di depan Komplek Pusri beberapa waktu yang lalu. Sang Ayah meninggal di lokasi kejadian. Sedangkan Ibunya meninggal setelah sebentar dirawat di UGD RS Pusri.

Kira-kira kejadiannya jam enam pagi saat mereka dalam perjalanan hendak ke pasar Lemabang (pasar terdekat dari rumah korban yang tinggal di daerah Kalidoni). Mendapat kabar via telepon dari sang teman akrab bahwa kedua orangtuanya kecelakaan, saya langsung ke UGD RS Pusri kira-kira jam tujuh pagi. Setelah tiba di sana, melihat di ruangan tidak ada satu pun pasien berbaring, saya tanya kepada dokter yang berjaga. Alangkah terkejutnya saat saya melihat di ruangan sebelah, tampak dua orang ditutupi selimut dari kepala hingga kaki. Saya langsung menduga kedua orangtua teman saya ini telah dipanggil menghadap-NYA. innalillahi wa innailahi rajiun. Saya keluar dan terdiam di depan pintu UGD. Rasanya hampir tidak percaya.

Teman saya masih dalam perjalanan di darat dari Sungai Lilin, Musi Banyuasin. Sedangkan adiknya yang bertugas sebagai polisi di Bangka, demikian pula dalam perjalanan pulang setelah mengetahui kabar bahwa kedua orangtua mereka kecelakaan bermotor. Saat saya terdiam dan membisu itu, entah apa yang hendak saya lakukan setelah mengetahui mereka berdua telah meninggal.

Tak lama kemudian kedua jenazah akan dibawa ke RSU Muhammad Husein dengan dua mobil ambulance. Saya mengikuti dua mobil ini dari belakang dengan mengendarai sepeda motor sendiri. Setelah tiba di RSUMH, kedua jenazah divisum di ruang forensik. Ya Allah, sungguh dekat hamba ini dengan kedua jenazah, dalam batin saya, membantu para kerabat dan tetangga korban yang turut membantu menurunkan kedua jenazah dari mobil ambulance ke ruang forensik.

Kira-kira dua jam lamanya pemeriksaan forensik oleh dokter, hasil visum kemudian dibawa oleh kerabat korban yang mengurusnya. Hasil visum ini nanti digunakan untuk keperluan polisi menyeret sang sopir mempertanggungjawabkan perbuatannya ke meja hijau. Kalau uji wongkito, sopir yang menabrak korban ini masih “budak” (pemuda tanggung kira-kira umurnya 19 tahun).

Ya Allah, sepanjang perjalanan dari RSUMH pulang ke rumah, saya banyak merenung dan pikiran kosong. Sungguh saya selalu berpikir kejadian ini sangat begitu cepat. Saya jadi ‘ngeri’ melihat sepeda motor sendiri. Begitu mengerikannya sepeda motor benar-benar menjadi korban yang bisa sangat parah lebih dahulu daripada kendaraan lainnya. Semoga saya dapat mendapat pelajaran dan hikmah dari semua peristiwa ini, dan memohon agar Allah menjauhi saya dari bala’. Amin.

Wallahu’alam

Categories : eriek, penyeruit Tags :
eriek

Kuasa Media Massa

Posted by eriek 31 January, 2010 (0) Comment

JAUH sebelum mengenal internet sebagai salah satu media massa, kita mengandalkan media massa cetak, seperti koran, majalah dan tabloid sebagai media informasi yang mampu menjangkau publik secara luas. Dennis Mcquail (1996:53) membagi sejumlah peranan media massa sebagai berikut:

Pertama, jendela pengalaman yang meluaskan pandangan kita dan memungkinkan kita mampu memahami apa yang terjadi di sekitar kita, tanpa campur tangan pihak lain atau sikap memihak.

Kedua, juru bahasa yang menjelaskan dan memberi makna terhdap peristiwa atau hal lain yang terpisah dan kurang jelas.

Ketiga, pembawa atau pengantar informasi dan pendapat.

Keempat, jaringan interaktif yang menghubungkan komunikator dengan komunikan melalui berbagai macam umpan balik.

Kelima, papan penunjuk jalan yang menunjukkan arah, memberikan bimbingan atau instruksi.

Keenam, penyaring yang memilih bagian pengalaman yang perlu diberikan perhatian khusus dan menyisihkan aspek pengalaman lainnya, baik secara sadar dan sistematis maupun tidak.

Ketujuh, cermin yang memantulkan citra masyarakat terhadap masyarakat itu sendiri, biasanya pantulan citra itu mengalami perubahan karena adanya penonjolan terhadap segi yang ingin dilihat oleh para anggota masyarakat, atau sering pula segi yang ingin mereka hakimi atau cela.

Kedelapan, tirai atau penutup yang menutupi kebenaran demi pendapaian tujuan propaganda atau pelarian suatu kenyataan.

Dari peran-peran tersebut, sesungguhnya media massa memiliki kuasa terhadap publik di era reformasi dimana pers sangat terbuka sejak runtuhnya Orde Baru pada 1998 lalu. Media massa kemudian turut diramaikan dengan kehadiran internet (media online,red) yang hampir setiap menit atau bahkan sepersekian menit hadir mengisi informasi ke dalam dunia online.

Ruang publik yang biasanya disuguhi media cetak; koran, tabloid, dan majalah, selain itu kehadiran media elektronik; televisi dan radio pun demikian dengan pesat berkembang. Dulu yang kita sering didominasi televisi swasta yang bermarkas di Jakarta, kini hampir beberapa daerah memiliki dan menyiarkan siaran televisinya. Mereka memiliki khas dan kearifan lokal yang dapat diterima oleh masyarakatnya dibandingkan rezim televisi swasta dari Jakarta yang mementingkan peringkat/rating tayangnya daripada aspek edukasinya.

Pilihannya sekarang adalah publik sudah harus belajar menyeleksi terpaan media massa yang begitu derasnya bak air mengalir. Jika masyarakat kita sudah cerdas demonstrasi dan mengkritik pemerintah tanpa ada lagi kekerasan, artinya publik sudah mulai cerdas mana media massa yang mampu mengawal untuk kepentingan masyarakat agar terwujud keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Categories : eriek, penyeruit Tags :
eriek

Axis Beri Dana Sosial Kepada Wongkito

Posted by eriek 26 January, 2010 (0) Comment

Axis sebagai provider GSM pendatang baru khususnya di kota Palembang, secara resmi meluncurkan produknya sekaligus memberikan dana santunan/sosial kepada Komunitas Blogger Wongkito sebesar Rp 5 juta rupiah. Tentu saja hal ini dilakukan Axis sebagai bentuk CSR (Corporate Social Responsibility) terhadap publik, meskipun Axis termasuk pendatang baru di kota Palembang.

Melalui momentum ini, Axis mengajak Komunitas Blogger Wongkito mengikuti kopi darat (kopdar) di Square Restaurant, Novotel Palembang, Sabtu pagi (23/1). Anita Avianty, Head of Corporate Communication Axis yang juga seorang blogger, yakin pada potensi yang dimiliki para blogger sebagai kalangan yang jujur dalam menilai sebuah produk telekomunikasi. Apalagi Axis masih awam di kalangan masyarakat pengguna telekomunikasi mobile. Untuk itulah kehadiran blogger diyakini dapat mengedukasi masyarakat.

Acara ini dihadiri teman-teman blogger Wongkito: Pak Alamsyah, Ibu Nike, Pak Andi Saleh dan istri, Pak Victor, Mangoeni, Ardy, Jafis, Goiq, Indah, Lies, Idrus, Ranny, Ilham, Trendy, dan para perwakilan ekskul blogger SMA Negeri 5 Palembang, serta sejumlah teman-teman Ouja dan Cicit dari STMIK MDP Palembang. Acara yang dipandu oleh Suzan dan Arles tersebut, sangat meriah dan antusias teman-teman blogger karena Axis membagikan hadiah untuk yang bisa menjawab pertanyaan yang diberikan kedua MC. Pun tidak hanya bagi-bagi hadiah bagi yang bisa menjawab pertanyaan dengan benar, tapi ada juga lomba #tweetun. Hadiah sebuah Modem bundling Axis dari lomba ini diraih oleh Idrus aka Xvader. Isi #tweetun nya begini: mawar merah di taman, petik satu untuk si gadis, ber-sms ria sama teman-teman, biaya murah berkat #axis

Uniknya ada pemotongan tumpeng pempek yang diwakili oleh Pak Andi dan diberikan kepada Ibu Anita. Hal ini mengisyaratkan Wongkito menyambut kehadiran Axis di kota Palembang. Tumpeng yang biasanya nasi kuning beserta lauk-pauknya, berbeda yang dikreasikan teman-teman Wongkito berupa tumpeng pempek yang dihadirkan khusus bagi Axis.

Axis di BKB

Tidak hanya mengundang secara khusus para blogger Wongkito mengenalkan produknya, namun Axis hadir di Benteng Kuto Besak (BKB). Seperti biasa kehadiran atau promosi produk ditandai dengan pertunjukan lagu-lagu yang dinyanyikan band asal Palembang. Sayang ya Axis tidak punya icon artis/penyanyi di panggung. Seharusnya bisa menghadirkan salah satu penyanyi terkenal dari Jakarta, agar para pengunjung yang hadir di BKB lebih ramai daripada yang saya dan teman-teman lihat Sabtu siang itu.

Harapannya semoga Axis mempunyai inovasi yang berbeda daripada provider lainnya, sehingga masyarakat bisa menilai apakah Axis benar-benar baik? Semoga ya.

Categories : eriek, penyeruit Tags :
eriek

Resolusi, Konsekuensi untuk Dipenuhi

Posted by eriek 22 January, 2010 (0) Comment

SUDAH hampir menjelang akhir bulan Januari di tahun 2010 ini. Satu bulan pembuka di tahun ini akan segera usai. Pada waktu pergantian tahun lama memasuki tahun baru, tentunya ada sebuah semangat baru untuk berubah menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Begitu sebagian orang berikrar dalam dirinya.

Namun, terlepas dari apakah ikrar yang sudah terucap maupun dalam hati dilaksanakan sesuai atau tidak, itu seharusnya menjadi tanda tanya pada kemudian hari. Atau jangan-jangan hanya lewat begitu saja dan berpikir, “Yah kayaknya ngga bisa deh target ini tercapai nanti.”pesimisnya.

Jika diibaratkan ada sebanyak 365 anak tangga akan kita lewati satu demi satu dan hari ini adalah anak tangga ke-22. Masih ada tersisa sebanyak 343 anak tangga yang harus dilewati di depan. Tiap satu anak tangga banyak cobaan dan rintangan yang akan kita hadapi. Itu pun jika kita sudah menyiapkan ‘amunisi’ menghadapi cobaan dan rintangan tersebut di hari esoknya.

Mungkin kita tidak pernah menyinggung tentang instropeksi atau refleksi atas diri kita setiap akhir bulan. Pun demikian dengan saya hampir tidak pernah melakukan sebelumnya. Perubahan naik dan turun kinerja dalam pekerjaan demikian sama nasibnya. Hampir tidak pernah direfleksi atau dievaluasi. Apalagi atas inisiatif sendiri. Bukan atas perintah manajer atau pimpinan perusahaan.

Menjelang masuk bulan Februari yang tinggal hitungan beberapa hari lagi, ada baiknya refleksi mulai dilakukan. Apa saja yang sudah dan belum kita lakukan, maka perlu evaluasi satu demi satu. Teliti dan mengingat hal-hal yang menjadi ‘goal’ menurut resolusi yang sudah disusun. Jadi, resolusi tak tinggal resolusi. Bila perlu resolusi perubahan, seperti pada APBN perubahan. Melihat kenyataan dan fakta ternyata tidak seperti yang dibayangkan pada waktu membuat resolusi.

Categories : eriek, penyeruit Tags :
eriek

Buka dan Ciptakan Semangat Baru!

Posted by eriek 31 December, 2009 (0) Comment

ADA dua lagu yang saya putar beberapa hari terakhir ini. “Higher” oleh Creed dan “Buka Semangat Baru” oleh Ello adalah lagu-lagu tersebut. Creed yang membawakan lagu rock nan lawas, namun saya masih suka mendengarkan lagu ini dari sekian lagu yang dinyanyikan Creed lainnya.

Apa ngga bosan mendengar hanya dua lagu saja? Oh tidak. Untuk saat ini ya dinikmati saja. Lagu “Higher” oleh creed ini, seperti membangkitkan semangat baru. Bagi saya, “higher” dalam lagunya seperti memberi tantangan untuk mencapai puncak lebih tinggi. Ke atas dan semakin ke ataslah! Atau secara sederhana begini, gapailah cita-cita engkau setinggi langit. Jangan pernah menyerah! Nah, ini juga salah satu judul lagu ya. Hehe.

Lalu, lagu “Buka Semangat Baru” oleh Ello memberikan nuansa semangat kepada teman-teman. Ia menyerukan membuka semangat baru dan jadilah pribadi yang baru.

Kalau sebelumnya tidak semangat, maka ciptakanlah semangat baru. Kalau sebelumnya belum mendapatkan inspirasi, carilah inspirasi baru untuk meningkatkan semangat yang dapat di-action-kan. Sering kali kita berupaya untuk menyemangati diri. Namun, semangat ya tinggal semangat jika tidak segera bangun jiwa dan raganya.

Satu hal lagi adalah ketakutan. Jika kita takut gagal, dan takut tidak berhasil apa yang telah direncanakan, maka justru akan mengurangi semangat kita untuk melakukan aktivitas lainnya. Tidak apa-apa salah, daripada tidak pernah mencoba sama sekali. Orang tidak pernah luput dari salah, ya kan?

Ciptakan semangat baru setiap datangnya pagi yang cerah. Coba rasakan energi semangat baru saat di pagi hari. Bukankah luar biasa yang kita rasakan jika dibandingkan pada malam hari?

Baiklah selemat membuka semangat baru di tahun baru 2010 yang sebentar lagi akan tiba. Semoga Engkau meraih lebih sukses dibandingkan tahun sebelumnya!

Categories : eriek, penyeruit Tags :
eriek

Keberhasilan dan Kesuksesan

Posted by eriek 17 December, 2009 (0) Comment


Orang bilang, “Kegagalan adalah Kesuseksesan yang tertunda”. Orang ‘harus’ merasakan gagal terlebih dahulu sebelum menuai nikmat kesuksesan. Jika menemukan keberhasilan, maka jadikan pada hari itu menjadi awal bagi keberhasilan dan kesuksesan serta pengabdian kepada masyarakat.

Selamat Tahun Baru Hijriyah 1431 H. Semoga engkau meraih keberhasilan dan kesuksesan.

Categories : eriek, penyeruit Tags :
eriek

“Kompas” pada Usia ke 44 Tahun di Mata Saya

Posted by eriek 28 June, 2009 (0) Comment

44-tahun-kompasSuatu sore di sebuah perempatan lampu merah di jantung ibukota,  saya melihat beberapa loper koran menjajakan koran dan majalahnya kepada para pengendara kendaraan bermotor.  Sekilas tampak dari jauh, koran Kompas diapit beberapa koran dan tabloid lainnya. Dengan sigap saya melambai kepada penjual koran itu menandakan bahwa saya ingin beli koran. Saya tahu bahwa koran Kompas sedikit lebih mahal daripada koran nasional lainnya. Tapi, saya tak perhitungan untuk membeli koran Kompas meskipun harganya beda Rp 500-1.000,- per eksemplar dengan koran lain.

Isi dan harganya (kini Rp 3.500 per eksemplar) menurut saya sudah seimbang dengan beragam tulisannya yang berbobot dan bermutu. Bahkan tak jarang untuk membaca 36 halaman (kadang-kadang hari tertentu bisa mencapai >36 halaman) koran Kompas ini, saya sering tak tuntas. Hanya beberapa rubrik pilihan saja yang saya baca, seperti: Tajuk Rencana, Opini, Pendidikan dan Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan Sosok. Itu tadi rubrik senin-sabtu. Kalau hari minggu saya suka membaca rubrik Kehidupan, Hobi dan Komunitas, Urban, dan Parodi yang ditulis Samuel Mulia.

Tulisan saya di blog ini hanya menceritakan kekaguman saya terhadap Kompas sebagai media cetak pilihan saya. Tidak ada permintaan dari pihak Kompas agar saya menulis testimoni tentang Kompas. Saya menulis tentang Kompas hanya menunjukkan apresiasi saya terhadap koran ini yang tepat merayakan hari ulang tahunnya ke-44. Lalu, mengapa saya memilih Kompas?

Pertama, Kompas adalah salah satu sederetan media massa cetak terbesar di Indonesia yang menyajikan kedalaman berita dan analisis cukup komprehensif dibandingkan dengan media massa cetak nasional lainnya. Di tengah derasnya arus informasi/berita yang cepat, sudah banyak ditemukan pada media televisi maupun media online di internet. Soal kedalaman berita, tentu saja media televisi maupun online tidak bisa mengalahkan kedalaman berita di koran terlebih lagi majalah yang memang menyajikan berita yang mendalam.

Kedua, Kompas merupakan media massa cetak yang serius dan menjaga kualitas tulisannya. Saya menyukai Kompas sekaligus belajar banyak hal yang baru. Gaya tulisan jurnalistiknya tentu banyak memengaruhi gaya menulis saya, baik untuk artikel berita maupun opini (yang ditulis orang-orang yang mempuni di bidangnya masing-masing). Bahkan, satu halaman artikel (biasanya kolom Opini) saya baca berulang kali. Sampai saya pernah menyerah dan tidak sanggup memahaminya. Apakah saya yang tidak sanggup memahami tulisan itu atau si penulisnya tidak bisa menyampaikan tulisannya agar bisa dimengerti para pembacanya?

Ketiga, Kompas adalah ‘buku’ pengetahuan harian yang tak pernah usang dibaca. Ya seperti layaknya sebuah buku yang kita beli di toko buku, menunjukkan bahwa sekali membaca Kompas, tidak akan rela untuk membuangnya. Bila perlu kita simpan dan dibundel lalu dimuat dalam rak-rak buku. Kalau sampai dijual ke pemulung, rasanya tidak tega. Butuh sikap kreatif agar bisa mengumpulkan sejumlah artikel yang menarik dan masih relevan untuk dibaca, seperti Opini atau ulasan edisi khusus tentang tokoh tertentu. Dulu ketika SMA, saya pernah membeli edisi khusus 100 tahun Soekarno. Isinya tentu saja banyak mengulas tentang Soekarno dari berbagai sudut pandang. Tapi, entah sekarang dimana saya menyimpan Kompas edisi Soekarno itu.

Kehadiran Kompas secara tidak sadar mendidik saya dalam berbagai hal. Terutama soal tulisan Kompas yang serius ternyata memberi kesan kepada setiap gaya tulisan saya memiliki karakter serius juga. Lain halnya kalau saya pembaca setia buku-buku teenlit yang merebak di toko-toko buku. Mungkin saja akan merubah karakter saya menjadi gaya tulisan gue elo dan lain sebagainya.

Selamat hari jadi Kompas yang ke-44 tahun. Semoga tetap eksis menjadi koran yang mencerdaskan bangsa di tengah-tengah minimnya budaya membaca karena ‘gempuran’ tayangan televisi lebih diminati masyarakat daripada budaya membaca itu sendiri.

Categories : eriek, penyeruit Tags :
eriek

Peraturan Untuk Dilanggar

Posted by eriek 31 January, 2009 (0) Comment

ditilang-polisi1

Mungkin Anda sering kesal ketika di jalan raya melihat kesewenang-wenangan kendaraan umum (angkutan kota atau angkot). Mulai dari berhenti di pinggir jalan sambil menunggu calon penumpang hingga sampai aksi kebut-kebutan di jalan raya. Bahkan, tidak dipungkiri kadang sering terjadi kecelakaan angkot. Sampai-sampai bikin celaka para penumpang dan para pengguna jalan lainnya.

Seperti foto di atas, karena kesewenang-wenangan sopir angkot, ternyata tak hanya membikin geram para pengguna jalan, tapi juga polisi lalu lintas. Tampak polisi lalu lintas menilang sopir angkot. Jika sudah ditilang, apakah sang sopir angkot ini akan jera? Bisa iya dan bisa juga tidak.

Kamis sore (29/1) kemarin, saya dan teman-teman kebetulan lewat di jalan Kartini di bilangan Tanjung Karang, dekat Pasar Bambu Kuning, Bandarlampung. Teman saya, Gigih, langsung sigap memfoto  sopir angkot yang ditilang polisi lalu lintas. Dalam hati mengatakan syukur ditilang lo! Hehe…

Sebenarnya kalau Anda perhatikan, tidak saja Anda dan saya, tapi semua pengguna jalan raya adalah cermin kita berprilaku selama menjadi pengguna jalan raya. Pernah merasakan terjebak macet? Bagaimana rasanya? Kesal dan marah bukan? Ya, itulah diri kita. Saya juga pun pernah mengalami begitu.

Kalau dihitung-hitung begitu banyak pelanggaran lalu-lintas terjadi di jalan raya. Mulai dari melanggar lampu lalu lintas, sampai rambu-rambu lalu lintas, seperti: Dilarang Parkir atau Dilarang Stop. Baik saya maupun Anda pasti sering melihat kendaraan melanggar lalu lintas. Jumlahnya semakin banyak seiring meningkatnya jumlah kendaraan bermotor. Sementara jumlah jalan yang dibikin pemerintah setempat tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang semakin banyak dan melimpah.

Jika sebuah peraturan ternyata tidak membuat jera para pelanggar, mungkin akan lebih baik masing-masing para pengguna jalan raya mulai menyadarinya bahwa sangat berartinya saling menghargai sesama pengguna jalan.

      
Categories : eriek, penyeruit Tags :
eriek

Melihat Gerhana Matahari Cincin di Lampung

Posted by eriek 26 January, 2009 (0) Comment

cincin

Jam telah menunjukkan Pukul 15.21 WIB. Saya bergegas keluar turun tangga dari lantai tiga. Sesekali saya menatap matahari sebentar dari balik jendela, terlihat cukup cerah. Kalau lihat matahari lama-lama terasa silau dan bikin sakit mata. Tapi, beberapa saat matahari tertutup awan dan mendung. Sempat berpikir, apakah nanti akan turun hujan saat terjadi gerhana matahari cincin? Beberapa orang terlihat agak ramai hilir-mudik di jalan. Saya penasaran, kemana orang-orang ini akan melihat momen datangnya gerhana matahari cincin?

Ternyata mereka sudah banyak berkumpul di lapangan sepakbola. Ramai orang di sana. Dari orangtua, remaja sampai anak-anak sekolah yang mengenakan seragam sekolah SMA. Ada yang telah siap dengan tripod untuk penyangga kamera foto yang lengkap dengan lensa tele agar bisa menangkap objek (gerhana matahari cincin) lebih bagus dan menarik. Anak-anak secara bergantian saling bertukar kacamata untuk melihat gerhana matahari. Ada pula tim reporter dari Reuters yang jauh-jauh datang dari Jakarta, untuk menanti momen gerhana matahari.

warga-menanti-gerhana“Sudah 2 hari di Bandar Lampung,”kata salah seorang jurnalis Reuters itu kepada saya. Ada sebuah alat berbetuk persegi yang mengarah ke matahari dan tersambung ke sebuah laptop. Saya mendekati salah satu rekan jurnalis tadi yang sesekali memonitor pergerakan matahari dari laptop. Tak jarang dia menerima telepon dan berbicara dalam bahasa Inggris. Dalam benak saya, paling tidak yang menelponnya itu editornya yang juga memonitor.

Sekitar pukul 16.41 WIB, orang-orang tampak takjub telah melihat gerhana matahari sudah membentuk cincin. M.Reza, teman saya yang hobi fotografi, sudah mempersiapkan kameranya (Nikon D70S) dipasangi filter agar setiap kali dia memfoto tidak membuat matanya sakit. Entahlah sudah berapa foto yang berhasil dia abadikan dan disimpannya. Sekilas saya lihat dari view kameranya sudah cukup banyak.

Tak kalah bagusnya saya melihat hasil jepretan seorang fotografer ketika tepat saat gerhana matahari cincin. Warnanya agak kemerah-merahan. Mungkin ini karena pengaruh filter. Kamera yang dipakainya termasuk high class for photography (Nikon D2H). Saya foto saja hasil foto milik fotografer itu tadi. Kalau dari hasil kamera saya kurang bagus. Maklum kamera digital biasa yang beresolusi cuma 3 Mega Pixel.

Ya, sore itu adalah momen yang langka bagi penduduk Indonesia, bisa melihat peristiwa gerhana matahari cincin. Syukur alhamdulillah saya bisa menyaksikan langsung di sini, karena titik daratan terbaik untuk melihat gerhana ini di Lampung.

Link terkait:

      
Categories : eriek, penyeruit Tags :

Recent Comments

-->